”kepulangan” Damar.. Sedih.., pasti Ikhlas.., insya Allah sudah ikhlas, Namun rutinitas sehari-hari yang biasanya full bersama Damar, belum dapat tergantikan, Rasanya “nglangut”, bingung mau ngapaian, pelariannya ke kantor atau blogwalking. Biasanya kalau di kantor bawaannya pengen cepat-cepat pulang karena teringat Damar, padahal jarak rumah ke kantor cuma seglundungan aja.

- Damar Gemes (foto Lebaran 2011)
To the inti topic.. Mungkin ada yang bertanya-tanya, Damar sakit apa, Sekitar hari Minggu tanggal 25 September, Damar sakit panas, panas karena batuk. Bisa dibilang batuk udah jadi langganan Damar,karena Damar celah langit (sejak lahir,langit langit mulut tidak tertutup tapi langsung tembus ke hidung), jadi suka tersedak, kami sudah ekstra hati-hati ketika meminumkan susu lewat dot ataupun ketika menyuapinya bubur halus. Saat panas kemarin,kami sudah memberi obat penurun panas (praxion) dan mucos (obat batuk). Hari Rabu, Damar kami bawa priksa ke klinik Rachmi, ke Prof. Dr. Soeroyo, dokter langganan yang biasa menangani Damar. Diberi resep Renastitin, Mucos dan Alco. Setelah priksa,sempat turun panasnya. Hari Jumat pup Damar lebih lembek dari biasanya, kami kasih Lacto B. Makan minumnya masih seperti biasa,lebih lahap malah. Hari Sabtu pup Damar makin sering dan makin berkurang ampasnya, lalu kami bawa ke RS PKU, saat ke rumah sakit itu Uti dan Bunda udah bertangis-tangisan
Masuk UGD langsung diinfus, pesen tempat untuk opname. Karena Bunda hanya bawa susu saja, maka Bunda putuskan untuk pulang mengambil keperluan Damar yang lain, baju, tempat-tempat makan, diapers, tisu, dll. Cuma sebentar pulang, bawaannya banyak banget-nget. Sampai RS habis maghrib, nggendong Damar, tumben-tumbennya Damar gak mau ngedot tapi mau minum disendoki (Bunda sempat kepikiran, gimana besok setelah operasi bibir karena gak boleh ngedot,eh malah di saat-saat terakhir Damar mau minum lewat sendok), minum habis banyak, gak mau berhenti.

- Damar sebelum kejang dipangku ayah, pipi nyempuk dan bersiih
Karena Damar pakai diapers pikir Bunda tak perlu banyak-banyak bawa celana, ternyata pupnya Damar tembus sampai ke celana. (Saat Damar Bunda minumin susu sambil dipangku,tembus juga sampai ke celana dan baju Bunda). Lama-lama celana Damar kehabisan stock, Ayah nyuruh Bunda beli celana di toko perkap bayi sebelah rumah sakit. Setelah selesai mimiki Damar, Bunda lalu turun untuk beli celana, gak terlalu lama, kira-kira 15 menit, Bunda udah balik ke bangsal tempat Damar dirawat. Begitu liat Damar, Bunda langsung kaget, karena Damar matanya gak berkedip,langsung Bunda tekan bel manggil perawat. Bunda langsung lemes, yang tadinya lapar mau makan, jadi gak mau makan, nangis
Ternyata Damar kejang, padahal tangan dan kaki gak ngaku-ngaku, lalu diberi obat melalui “bawah”, langsung dirujuk mau dirawat di ruang IMC (intermediete nya ICU). Sambil menunggu ruang IMC dirapikan,Bunda disamping Damar,membacakan kalimat-kalimat dzikir. Ayah nepuk-nepuk Damar,tapi Damar tidak respon, tidak sadar. Lalu Damar dipakaikan headbox dan selang oksigen.
Sekitar jam 9 malam Damar dipindah ke ruang IMC, Bunda belum boleh masuk karena masih tindakan. Selang 30 menit, Bunda boleh masuk. Selain selang infus juga dipasang kabel-kabel yang menghubungkan ke monitor pemantau, detak jantung, respon 02 dll (Bunda gak begitu paham).
Saat masuk ke ruang IMC, mata Damar sudah menutup, Bunda masih positive thinking Damar bakalan sembuh meski harus dirawat di RS 10hari lebih. Uti datang bersama budhe Ida dan pakdhe, disusul eyang Sulis. Jam 10 malam lebih, dokter anak datang, dokter mengatakan karena pengaruh PDA (kelainan jantung Damar) jadi detak jantung Damar cepat, sesak nafas juga. Saat dokter memeriksa,kembali mata Damar membuka tak berkedip. Lalu Bunda bertanya status kondisi Damar, sadar atau tidak. Mata Damar disenter (disinari), yang haruse merespon dengan menutup tapi Damar tidak alias mungkin sudah koma
Dokter mengatakan kondisi Damar sudah “berat” tapi kita berusaha. Bunda masih berpositive thinking.
Karena hp Bunda lowbat,Bunda kembali ke kamar tempat Damar dirawat pertama kali,karena Damar juga tidak boleh ditunggui di dalam ruang IMC,hanya di luar saja. Bunda pusing sekali,lalu minta tolong Ayah supaya membelikan paracetamol. Tau-tau Bunda ketiduran dan baru bangun sekitar jam setengah 2 lebih. Langsung Bunda kembali ke ruang tunggu IMC.
Baru sekitar semenit sampai di ruang tunggu, perawat keluar,memanggil, “Ibunya Damar mana, itu putranya ditunggui karena semakin menurun kondisinya”. Ya Allah serasa melayang jantung ini, sekitar jam 2,monitor pemantau sudah garis lurus semua tanda Damar sudah meninggal
Ya Allah,kali ini Engkau ambil titipanMu lagi..
Uti sedang solat tahajud di depan ruang IMC, Bunda bilang “Damar pun mboten enten Bu”, (Damar sudah tidak ada buk), tangisan Bunda semakin deras. (Tapi enggak sampai yang histeris2).
Seorang ustadz datang untuk mendoakan Damar dan menasehati kami.
Kami putuskan untuk merukti Damar di rumah sakit saja karena hari masih gelap. Ayah,bunda dan budhe Ida ikut memandikan dan mengkafani Damar.
Jam 4 subuh Damar dibawa ke rumah dengan mobil pribadi, budhe Ida yang mangku, ayah yang nyetir (kemarin ayah cerita kalau pas menyetir waktu itu,dia menyetir sambil gemetaran).
Jamaah masjid yang baru saja selesai solat subuh langsung berdatangan ke rumah menyolatkan Damar, penuh seruangan.
Banyak sekali petakziah yang datang, tenda tidak cukup,di kiri kanan tenda masih banyak petakziah yang berdiri,tetangga Bunda sampai menggelar tikar di terasnya untuk duduk para petakziah. Ini berarti banyak yang mendoakan Damar, banyak yang peduli kepada keluarga kami.
Sekitar jam 10 pagi kurang upacara pemberangkatan dimulai, jenazah Damar digendong ayah menuju ke makam dengan ambulans.
Damar dimakamkan di Krapyak di sebelah makam dik Khotob (anak sepupu Bunda yang saat meninggal berumur 5bulan) dan di sebelah mbah kakung (bapak Bunda).
Kemana Anin ?
Sejak hari Sabtu siang, Anin dijemput eyang (ortu pak Yusuf) untuk diajak ke rumah beliau, sejak hari Jumat pagi Anin sudah pengen dijemput sebenarnya.
Anin menginap di tempat eyang dan pulang ke rumah Minggu pagi sekitar jam delapan.
Di depan jenazah Damar, Bunda jelaskan kalau adik sudah meninggal, sudah bobok lama. Nampak kesedihan di raut wajah Anin.
Anin bertanya, “Bunda, adik kok gak bangun-bangun ?kok enggak njedul keluar ?”,
Malam harinya saat mau tidur, Bunda berkata kepada Anin, “Sepi ya kak, gak ada adik”. Kata Anin, “Yuk, Bunda yuk, berdoa buat adik”, lalu kami berdoa bersama.
Di tengah malam Anin tiba-tiba bangun langsung lari ke kamar belakang,tempat biasa adiknya tidur, mungkin Anin mencari adiknya,kebiasaannya. Anin nampak bingung tidak mendapati adiknya,bengong sejenak.
Pagi harinya saat bangun tidur, Anin langsung bilang, “Bunda, Anin tadi nyium adik”. Entah Anin bermimpi atau teringat saat berpamitan mau ke rumah eyang dia mencium kening adiknya. Bunda bilang, “Sedih e gak ada adik”, Anin mencoba menghibur, “Gak papa Bunda,nanti beli adik lagi”.
Firasat,
Sebelum Damar meninggal,sekitar 2 minggu sebelumnya, Bunda bermimpi 2 gigi atas Bunda patah,kalau tidak salah,gigi taring lepas semua, kalau menurut Jawa, itu pertanda tidak baik. Bunda tidak berfikiran macam-macam, mungkin orang yang sudah sepuh yang akan meninggal, blas Bunda gak berfikiran kalau Damar yang akan meninggal. Malahan, Bunda pikir tak akan ada apa-apa,karena Bunda pernah bermimpi gigi patah juga tapi Alhamdulillah tidak ada apa-apa.
Setelah Damar meninggal yang semuanya serba angka 2, tanggal 2, jam 2, anak ke 2, umur 2 tahun, Bunda jadi ingat mimpi Bunda tersebut, 2 gigi patah.
Kalau ibu Bunda (uti) bermimpi, Uti dan Bunda mau pergi keluar rumah,tapi ketika itu gelaaaap semuanya, lalu uti mengajak Bunda masuk rumah lagi.
Sebelum Damar meninggal, sepertinya Damar ingin menyenangkan kami, syarat operasi bibir dimana berat badan harus 5kg, dan selama hampir 2 tahun umur damar beratnya susaaaah sekali untuk sampai di 5kg, mentok di 4,6-4,8kg saja (pengaruh kelainan jantung bawaan dimana berat badan susah naik, karena darah bersih dan darah kotor dari dan ke jantung bercampur jadi sari-sari makanannya tidak sempurna), seminggu sebelum sakit ayah menimbang Damar (kami mempunyai timbangan bayi di rumah) dan beratnya 5kg ! selang 3hari dari itu, Bunda menimbang Damar lagi, dan beratnya 5,3 kg, senangnya Bunda sampai menitikkan airmata di depan timbangan. Pikir kami, bulan Oktober ini Damar bisa operasi.
Dan sebelum Damar sakit, maemnya Damar tambah banyak, lahap, menyenangkan sekali.
Pipi Damar juga tambah nyempluk, putih bersih wajahnya, Bunda gak bosen menciumi pipinya, gemes.
selamat jalan nak..
kami merindukanmu selalu,
semoga kelak kita bisa berkumpul lagi di surga Allah
Hikmah : Untuk kesembuhan Damar, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, namun hasil akhir Allah lah Sang Penentu. Semua milik kita di dunia hanyalah titipan Allah SWT semata, jika Allah sudah berkehendak hendaklah kita sabar dan ikhlas saat Allah mengambilnya lagi.